Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa bulan penuh keberkahan telah datang. Diriku yang lemah ini dihadapkan pada problematika dan dinamika kehidupan masyarakat. Aku belajar dan berlatih untuk menjadi seorang pendakwah di masyarakat. Didalamnya, kutemukan berbagai pengalaman menarik dan istimewa yang tak terlupakan. Pengalaman yang telah membuka mataku akan pentingnya berdakwah di masyarakat.
Muballigh hijrah namanya (disingkat MH). Kegiatan ini memposisikan diriku menjadi 'pelayan'nya masyarakat. Diantara kegiatan utamanya adalah memakmurkan masjid dan mengajarkan Alqur'an. Semuanya rutin aku lakukan bersama beberapa temanku lainnya. Ada Abi, Adhit, dan Fajar. Kami ditempatkan di desa bendowulung, Kabupaten Blitar. Tepatnya di Musholla Al-Ikhlas dan Musholla An-Nur. Adhit dan Fajar bertugas di Musholla Al-Ikhlas, sedangkan aku dan Abi di Musholla An-Nur. Kami semua tinggal di rumah Pak Tauvani yang terlampau dekat dari kedua musholla itu. Pak Tauvani adalah ayah dari Zaidan, ketua panitia MH kami.
Sampai tiba suatu pagi yang mencengangkan. Pagi itu aku dan Abi telah menyelesaikan tugas kami di musholla. Diantaranya adzan subuh, imam sholat subuh, kuliah subuh, tadarus Alqur'an, dan membersihkan masjid. Kami pulang ke rumah dengan kondisi lelah. Sesampainya dirumah, aku langsung membaringkan tubuh diatas kasur. Selang beberapa menit, datanglah Zaidan dengan terburu-buru ke kamar kami. Zaidan tiba-tiba menyuruh Aku dan Abi untuk membantu kegiatan Dauroh Tahfidz di Masjid SMP Muhammadiyah 1 Kota blitar selama 3 hari. Mendengarnya, aku tersentak kaget dan langsung bangun dari posisi tidurku. Kami-pun berkemas untuk sesegera mungkin datang kesana, karena kegiatan pada pagi itu juga akan dimulai.
Kami pergi bersama Bintang, salah seorang temanku yang ditugaskan di desa yang sama namun di masjid yang berbeda. Bintang akan ikut membantu kami disana. Kami sebenarnya cukup kaget dengan adanya kegiatan yang sebelumnya belum pernah dikabarkan kepada kami ini. Namun, sebagai Kader Muhammadiyah, kami harus selalu siap membantu persyarikatan dimanapun kami berada.
Akhirnya kami sampai di Masjid SMP Muhammadiyah 1 Kota Blitar. Kami disambut dengan hangat oleh guru-guru sana. Setelah kami berdiskusi dengan seluruh panitia yang ada, kami disini ditugaskan menjadi pembimbing dan pengawas hafalan bagi para peserta. Kegiatan menghafal disana dilaksanakan sepanjang waktu dari pagi sampai malam. Awalnya kami pikir kami akan pulang pada malamnya, namun ternyata kami disuruh menginap di masjid. Untuk kedua kalinya kami kaget. Tanpa membawa bekal apapun, akhirnya kami tidur di masjid selama 2 malam.Selain mengawasi kegiatan menghafal, disana kami juga mencoba bergaul dengan para peserta. Rasanya mudah bergaul dengan mereka. Salah satu faktornya mungkin karena umur mereka yang sebaya dengan kami. Aku pribadi mendapatkan banyak teman baru. Salah satu peserta yang paling berkesan bagi diriku adalah Widi.
Widi bukanlah orang yang tampan, bukan pula orang yang ramah, juga bukan orang yang kaya. Dia hanyalah seorang yang memiliki keterbatasan atau bahasa kasarnya, Widi adalah seorang 'Autis'. Widi adalah pemuda yang tangguh. Setiap saat dia diganggu oleh teman-temannya. Banyak cara yang mereka gunakan untuk mengganggunya. Salah satunya dengan pura-pura menembaknya. Widi sendiri punya trauma berat akan suara tembakan. Ketika ada salah seorang temannya mengepalkan tangan kemudian mengacungkan jari telunjuk dan mengangkat ibu jarinya, seketika Widi histeris ketakutan. Terlebih diiringi suara 'DOR!!!' setelahnya. Widi biasanya akan langsung lari menjauhi teman yang mengganggunya.
Tidak cukup sampai disitu, Widi juga sering dipermainkan oleh teman-temannya. Widi terbiasa mengulangi perkataan teman-temannya. Jadi, tak jarang ada yang menjailinya dengan berkata kotor di depannya. Otomatis, Widi dengan polosnya mengikuti mereka. Mereka membodohinya di depan kami. Tak ada yang dapat kami lakukan kecuali mengingatkan mereka dan sedikit tersenyum atas perilaku konyol Widi.
Muballigh hijrah namanya (disingkat MH). Kegiatan ini memposisikan diriku menjadi 'pelayan'nya masyarakat. Diantara kegiatan utamanya adalah memakmurkan masjid dan mengajarkan Alqur'an. Semuanya rutin aku lakukan bersama beberapa temanku lainnya. Ada Abi, Adhit, dan Fajar. Kami ditempatkan di desa bendowulung, Kabupaten Blitar. Tepatnya di Musholla Al-Ikhlas dan Musholla An-Nur. Adhit dan Fajar bertugas di Musholla Al-Ikhlas, sedangkan aku dan Abi di Musholla An-Nur. Kami semua tinggal di rumah Pak Tauvani yang terlampau dekat dari kedua musholla itu. Pak Tauvani adalah ayah dari Zaidan, ketua panitia MH kami.
Sampai tiba suatu pagi yang mencengangkan. Pagi itu aku dan Abi telah menyelesaikan tugas kami di musholla. Diantaranya adzan subuh, imam sholat subuh, kuliah subuh, tadarus Alqur'an, dan membersihkan masjid. Kami pulang ke rumah dengan kondisi lelah. Sesampainya dirumah, aku langsung membaringkan tubuh diatas kasur. Selang beberapa menit, datanglah Zaidan dengan terburu-buru ke kamar kami. Zaidan tiba-tiba menyuruh Aku dan Abi untuk membantu kegiatan Dauroh Tahfidz di Masjid SMP Muhammadiyah 1 Kota blitar selama 3 hari. Mendengarnya, aku tersentak kaget dan langsung bangun dari posisi tidurku. Kami-pun berkemas untuk sesegera mungkin datang kesana, karena kegiatan pada pagi itu juga akan dimulai.
Kami pergi bersama Bintang, salah seorang temanku yang ditugaskan di desa yang sama namun di masjid yang berbeda. Bintang akan ikut membantu kami disana. Kami sebenarnya cukup kaget dengan adanya kegiatan yang sebelumnya belum pernah dikabarkan kepada kami ini. Namun, sebagai Kader Muhammadiyah, kami harus selalu siap membantu persyarikatan dimanapun kami berada.
Akhirnya kami sampai di Masjid SMP Muhammadiyah 1 Kota Blitar. Kami disambut dengan hangat oleh guru-guru sana. Setelah kami berdiskusi dengan seluruh panitia yang ada, kami disini ditugaskan menjadi pembimbing dan pengawas hafalan bagi para peserta. Kegiatan menghafal disana dilaksanakan sepanjang waktu dari pagi sampai malam. Awalnya kami pikir kami akan pulang pada malamnya, namun ternyata kami disuruh menginap di masjid. Untuk kedua kalinya kami kaget. Tanpa membawa bekal apapun, akhirnya kami tidur di masjid selama 2 malam.Selain mengawasi kegiatan menghafal, disana kami juga mencoba bergaul dengan para peserta. Rasanya mudah bergaul dengan mereka. Salah satu faktornya mungkin karena umur mereka yang sebaya dengan kami. Aku pribadi mendapatkan banyak teman baru. Salah satu peserta yang paling berkesan bagi diriku adalah Widi.
Widi bukanlah orang yang tampan, bukan pula orang yang ramah, juga bukan orang yang kaya. Dia hanyalah seorang yang memiliki keterbatasan atau bahasa kasarnya, Widi adalah seorang 'Autis'. Widi adalah pemuda yang tangguh. Setiap saat dia diganggu oleh teman-temannya. Banyak cara yang mereka gunakan untuk mengganggunya. Salah satunya dengan pura-pura menembaknya. Widi sendiri punya trauma berat akan suara tembakan. Ketika ada salah seorang temannya mengepalkan tangan kemudian mengacungkan jari telunjuk dan mengangkat ibu jarinya, seketika Widi histeris ketakutan. Terlebih diiringi suara 'DOR!!!' setelahnya. Widi biasanya akan langsung lari menjauhi teman yang mengganggunya.
Tidak cukup sampai disitu, Widi juga sering dipermainkan oleh teman-temannya. Widi terbiasa mengulangi perkataan teman-temannya. Jadi, tak jarang ada yang menjailinya dengan berkata kotor di depannya. Otomatis, Widi dengan polosnya mengikuti mereka. Mereka membodohinya di depan kami. Tak ada yang dapat kami lakukan kecuali mengingatkan mereka dan sedikit tersenyum atas perilaku konyol Widi.
Komentar
Posting Komentar